Monday, February 24, 2020

Tempat Ternyaman Selain Rumah Adalah Sekolah





"Sekolah adalah rumah kedua" begitu sederhana kalimat tersebut namun sarat akan makna. Kalimat ini tentu tidak hanya berlaku untuk siswa tapi juga untuk seluruh warga sekolah. Mereka berada dalam satu komunitas yang hubungannya menyerupai keluarga, ada rasa saling menghormati, menyayangi, toleransi hingga ketaatan pada berbagai peraturan yang telah dibuat demi terciptanya ketertiban dan kenyamanan dalam sekolah. Sekolah yang kita ibaratkan rumah haruslah memiliki suasana yang menyenangkan agar membuat betah setiap individu yang berada didalamnya. Tidak mudah menciptakan rasa nyaman disekolah. Rasa nyaman ini mungkin akan muncul saat ada beberapa hal seperti kekeluargaan, kebersihan dan ketertiban di sekolah.

Sikap kekeluargaan wajib ditanamkan, mengingat sekolah ibarat rumah kedua bagi warga sekolah. Saat ada rasa saling menghormati yang tertanam pada semuanya maka akan muncul rasa kekeluargaan dan persahabatan. Perasaan inilah yang membuat semua warga sekolah menjadi betah dan semangat saat akan ke sekolah. Mungkin dengan ini maraknya kasus bullying disekolah yang terjadi akhir-akhir ini bisa diminimalkan. Rasa kekeluargaan dan persahabatan yang terjalin akan membuat individu tidak takut mengeluarkan uneg-unegnya. Bisa tentang pelajaran, masalah sesama siswa, Miss komunikasi dengan guru dll, sebab semuanya saling terbuka. Rasa kekeluargaan memunculkan perasaan aman dan nyaman saat disekolah.

Sekolah sebagai rumah kedua juga tak luput dari sorotan dan penilaian masyarakat, karena selain belajar sekolah juga berperan dalam mengasah dan mengembangkan intelegensi emosional siswa. Emosi yang terasah dan terarah akan membentuk siswa menjadi pribadi yang hati-hati dalam bertindak.

Selain faktor kekeluargaann, kebersihan juga sangatlah penting. Bagaimana kita akan merasa nyaman di suatu tempat jika tempat tersebut kotor dan kumuh. Membuat peraturan saja tidaklah cukup, harus ada kerja sama antara warga sekolah untuk menjaga kebersihan. Diperlukan kesadaran dari masing-masing individu untuk menjaga kebersihan seperti memfungsikan petugas piket, memanfaatkan tempat sampah (organik dan anorganik), tidak mencoret dinding maupun bangku merupakan beberapa cara untuk menjaga sekolah tetap bersih.

Berikutnya hal yang tak kalah penting dari semuanya adalah ketertiban. Ketertiban adalah pangkal dari Kedisiplinan. Disiplin adalah patuh serta taat pada nilai-nilai yang sudah diatur dan dipercayakan menjadi tanggung jawabnya. Kunci sukses sebuah keberhasilan salah satunya adalah disiplin. Aturan kedisiplinan biasanya dituangkan dalam tata tertib sekolah. Salah satu tempat yang menggambarkan kedisiplinan adalah sekolah. Masuk, Istirahat dan pulang sudah terjadwal secara rutin dan bersifat mengikat.

Selain tentang waktu, ada peraturan berpakaian yang harus ditaati seluruh warga sekolah. Jika beberapa hal ini dilanggar maka setiap pelanggar akan mendapatkan sanksi yang telah ditetapkan. Sanksi disiplin tujuan utamanya bukan untuk menakuti, melainkan sebagai refleksi bahwa tiap perbuatan (terutama yang melanggar) pasti ada resikonya, serta menumbuhkan keteraturan waktu pada pola hidupnya agar bisa dikelola dengan sebaik-baiknya. Aturan disiplin tidak hanya berlaku pada siswa saja melainkan untuk guru, kepala sekolah maupun staf yang lain. GURU digugu lan ditiru menjadi tonggak terpenting kedisiplinan, Guru adalah orang tua dari siswa disekolah, orang tua adalah contoh bagi setiap anaknya. Dengan kata lain tolok ukur Kedisiplinan sebagian besar siswa berasal dari gurunya.

"Setiap orang menjadi guru, setiap rumah menjadi sekolah" begitulah kata Bapak pendidikan kita Ki Hajar Dewantoro. Pendidik/ guru akan membagikan ilmunya pada para siswanya, sedangkan guru mendapatkan pengalaman mamahami karakter siswa, Pemikiran baru ketika berinteraksi dengan siswa. Jika rumah saja bisa menjadi sekolah, apalagi sekolah yang konon katanya merupakan tempat menimba ilmu. Mari kita jadikan sekolah tempat yang menyenangkan Karena sekolah merupakan salah satu tempat untuk menimba ilmu dan mengenyam pendidikan. Dalam Pendidikan ada kebaikan ilmu yang kita peroleh, meskipun belum mampu merubah dunia minimal akan merubah pola pikir kita menjadi lebih sempurna.

*Penulis : Tites Nosiani, S. Pd ( Guru MA An-Nur dan pegiat literasi) 

0 comments:

Post a Comment